PEMBAHASAN
A.
Pengertian Syukur
Secara etimologi,
syukur berasal dari kataيَشْكُرُ – شُكْرًا شَكَرَ - yang
berarti berterima kasih.[1]Menurut
istilah syara’, syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang diberikan
oleh Allah swt dengan disertai ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat
tersebut sesuai dengan kehendak Allah.
Kata syukur dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagairasa terima kasih kepada Allah swt, dan
untunglah (menyatakan perasaan lega, senang, dan sebagainya).[2]
Syukur adalah suatu
sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala
nikmat-Nya, baik diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati, dan
diamalkan dengan perbuatan.
Jadi dapat
disimpulkan bahwa syukur adalah berterima kasih kepada Allah, lega, senang
dengan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya dimana rasa senang itu terwujud
pada lisan, hati maupun perbuatan.
Lawandarisikapbersyukuradalahkufur yang
pengertiannyameliputi:
1.
Tidakmauberiman,
2.
Tidaktahuberterimakasihatasnikmat
Allah dansegalakarunia yang diterimanya,
3.
Menentang Allah atautidakberiman,
4.
Mengingkariayat-ayat Allah
ataumengingkarirasul.[3]
B.
Ayat dan Tafsir Tentang Syukur
1.
Surah Al-Baqarah ayat 152
þÎTrãä.ø$$sùöNä.öä.ør&(#rãà6ô©$#urÍ<wurÈbrãàÿõ3s?ÇÊÎËÈ
Artinya :
“Karena itu,
ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah
kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Tafsir ayat
a.
Mengutip perkataan Syaikh Muhammad Ali-Ashabuni di dalam kitabnya
Shafwatut Tafasir, “Karena itu, ingatlah kepada-Ku Niscaya Aku ingat (pula)
kepadamu,” ingatlah kamu kepada-Ku dengan beribadah dan taat maka Aku akan
mengingat dengan memberi pahala dan ampunan. “dan bersyukurlah kepada-Ku dan
janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku,” besyukurlah terhadap
nikmat-nikmat-Ku atas kamu dan janganlah mengingkari dengan kekafiran dan
maksiat.[4]
b.
Ibnu Abbas berkata, ”Nikmat Allah di
siniberartiNabi
Muhammad saw. Olehsebabitu Allah menganjurkankepadakaummukmininmensyukurinikmatdanselalumengingatinya.”
Muhammad saw. Olehsebabitu Allah menganjurkankepadakaummukmininmensyukurinikmatdanselalumengingatinya.”
Fadz kuruuni adz kurkum, wasy kuruuli
wala takfuruun = Sebagaimana Aku telah memberi nikmat, maka selalulah
kalian berzikir dan, syukur dan jangan sampai mengingkari nikmat karunia-Ku
itu.Zaid bin
AslammengatakanbahwaNabi Musa a.s. bertanya,
"YaTuhanbagaimanaakubersyukurkepada-Mu?” JawabTuhan, “Ingatkepada-Ku
danjanganmelupakanAku. Makabilaandaingatkepada-Ku berartibersyukurkepada-Ku,danbi;aandalupapada-Ku
berartikufurkepada-Ku”.
Al-Hasan al-Bashri berkata, ”Udzkuruuni adz kur kum”
= Ingatilah Aku
dengan melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan atasmu. Niscaya Aku ingati kamu
dengan apa yang telah Aku janjikan kepadamu.Said bin Jubair'berkata, ”Ingatlah
kalian dengan melakukan taat kepada-Ku, Aku ingati kamu dengan pengampunan-Ku,
atau rahmat-Ku.”
Di dalam hadis sahih, ”Siapa yang ingat kepada-Ku dalam
hatinya (sendirian) Aku ingati dia dalam diri-Ku, dan siapa yang zikir
kepada-Ku di dalam majelis orang-orang maka Aku zikir kepadanya dalam rombongan
yang lebih baik dari rombongannya.”
Anas r.a. mengatakan Rasulullah saw. bahwa Allah Ta’ala
berfrman:“Hai anak Adam Jika anda
ingat (berzikir) pada-Ku dalam Arimu, Aku ingat kepadamu dalam diri-Ku, dan
Jika anda ingat kepada-Ku dalam romtengan, maka Aku ingat kepadamu dalam
romtongan Malaikat (yang lebih dari rombonganmu). Jika anda
mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat
kepadamu satuhasta, danjika anda mendekat
kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadamu sedepa, dan Jika anda datang
kepada-Ku berjalanAku
akan datangkepadamu berlari)”.
(HR. Bukhari dari Qatadah dan Ahmad dari Anas).
Wasy kuru li walaa takfuruun = Allah
menyuruh bersyukur dan menjanjikan kepada siapa yang syukur akan ditambah
kebaikan dan nikmat-Nya, sebagaimana tersebut dalam surat Ibrahim ayat:
”Wa idz ta’adz dzana rabbukum la’in
syakartum la’azi dan aakum, wala’in kafartum inna adzaabi
lasya diid” = Ingatlah ketika Tuhan memaklumkan. Jika kalian bersyukurmakaAkuakanmenambahnikmat-Ku
kepadamu, danbila kalian lupaakan nikmatmakasiksa-Ku sangatberat.[5]
2.
Surah Al-Baqarah ayat 172
$ygr'¯»túïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#qè=à2`ÏBÏM»t6ÍhsÛ$tBöNä3»oYø%yu(#rãä3ô©$#ur¬!bÎ)óOçFZà2çn$Î)crßç7÷ès?ÇÊÐËÈ
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki
yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika
benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
Tafsir ayat
a.
Megutip perkataan Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni di dalam kitabnya Shafwatut
Tafasir, bahwa Allah menyerukan orang-orang mukmin karena mereka adalah
orang-orang yang mengambil manfaat terhadap petunjuk Tuhan. Ayat ini bermakna,
makanlah wahai orang-orang yang beriman dari makanan-makanan yang yang lezat
dan rezeki yang halal yang dianugrahkan Allah kepadamu dan bersyukurlah kepada
Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang tidak terbatas, jika kamu benar-benar ikhlas
beribadah kepada Allah dan tidak menyembah seorangpun selain-Nya.[6]
b.
Di dalam ayat ini, khitab Allah ditunjukkan kepada orang-orang yang beriman
secara khusus. Mereka ini akan lebih sensitif pemahamannya, disamping bias
menerima hidayah. Karenanya, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman
agar memakan makanan yang halal dan bersyukur kepada Allah atas karunia yang
dilimpahkan kepada mereka. Kemudian Allah menjelaskan makanan yang haram, bahwa
makanan yang diharamkan itu berjumlah sedikit, dan kebanyakan makanan yng
merupakan ciptaan Allah itu dihalalkan.
Allah telah menyeru
orang-orang beriman agar menerima hukum syariat Allah, juga agar mengambil apa
yang dihalalkan dan meninggalkan apa yang diharamkan. Pelanggaran ini bukanlah
karena Allah menginginkan agar mereka mengalami kesulitan dan kesempitan dalam
mencari rezeki, tetapi agar mereka sebagai hamba bisa mensyukuri apa-apa yang berasal
dari Allah dan agar mereka betul-betul beribadah semata-mata karena Allah.[7]
3.
Surah Ali ‘Imran 145
$tBurtb$2C§øÿuZÏ9br&|NqßJs?wÎ)ÈbøÎ*Î/«!$#$Y7»tFÏ.Wx§_xsB3ÆtBur÷Ìãz>#uqrO$u÷R9$#¾ÏmÏ?÷sçR$pk÷]ÏB`tBur÷Ìãz>#uqrOÍotÅzFy$#¾ÏmÏ?÷sçR$pk÷]ÏB4ÌôfuZyurtûïÌÅ3»¤±9$#ÇÊÍÎÈ
Artinya :
”Sesuatuyang
bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang
telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami
berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan
memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Tafsir mufradat
: مُؤَجَّلاًyang telah ditetapkan waktunya hingga tidak dapat
dimajukan dan di mundurkan.
: نُؤْتِهِ مِنْهَاBagiannya di dunia tetapi di akhirat ia tidak mendapat
apa-apa.[8]
Tafsir ayat
a.
Mengutip perkataan Syaikh Muhammad Ali As-Shabuni di dalam kitabnya
Shafwatut Tafasir bahwa banyak Nabi
yang berperang untuk menegakkan kalimat Allah dan bersama-sama dengan mereka
terdapat para ulama yang bertakwa dan orang-orang saleh yang ahli ibadah. Mereka
semua ikut beperang lalu di antara mereka ada yang terbunuh. Meraka tidak
menjadi pengecut dan berputus asa ketika sebagian dari mereka ada yang terbunuh
atau terluka untuk berjihad[9].
b. Masalahajalseseorang
tidaktermasukurusanmanusiaatautatanan Allah untukalamsemestaini.
Seseorangmustahilmatitanpaseizindankehendak Allah.
Tatanankehidupaninibersumberdari Allah, dansebabmusababnyasalingberkait di
dalamnya.
Firman Allah kitabbanMuajjala,artinya
Allah menetapkanhaltersebutdisetaidenganajaltertentu yang tidakakanberubah. Hal
tersebuttelahdiaturoleh Allah yang tidakakanterlambatatauterlalucepat. Banyak
orang melipatkandiridalamurusansebab-sebabkematian,
dalammelibatkandiridalamkancahpeperangan,
ataumelibatkandiriketengah-tengahpenyakitmenular,
sertamelibatkandiridalamberbagaibencanaalam.Tetapisekalipundemikianmerekatidakterkenabahayaataupenyakit.
Dalamayatiniterkandungsindiranbagi
orang-orang yang sibukmengumpulkanganimahdalampernaguhud,
sehinggamerekameninggalkankedudukan yang strategis yang
telahdiperintahkanolehRasulullah agar
janganditinggalkan.Jadiseolahsindirantersebutmengatakankepadamereka, bahwabila
kalian menghendakipahaladuniamaka Allah tidakmenghalang-halangi kalian,
dankewajiban kalian tidak lain hanyalahtinggalmenempuhjalannyasaja.
Tetapidalamhalinibukansuatuhal yang
dikehendakiolehNabi Muhammad saw. agar
kalian melakukannya. BahkanNabi Muhammad saw, mengajak kalian kepadahal yang lebihbaikdaribagianduniawi,
seperti yang terlihatolehkalian, yang dimaksudkanNabi saw
adalahpahaladiakhirat. Bagi kalian adaduapilihan,
terkadangmemilihduniadansuatusaatmemilihakhirat.Bagimasing-masingkeduanyamemilikitatanantersendiri
yang harusdiikutidanmempunyaijalan-jalanlurus yang harusditempuh.
Yaitu orang-orang yang
mengertiartikarunia Allah kepadadirimereka,
kemudianmenggunakannyauntukmeningkatkandirikearahkesempurnaan.
Untukitulahmerekagemarmelakukanamal-amalshaleh yang
bisamengangkatjiwadandapatdimanfaatkanolehumatmereka. Orang-orang yang
berlakudemikin, sepertiAnas bin Nadr, dan orang-orang yang
berjuangdanbersikapsabaarbersamaNabi saw, denganbekalkemauankerasdihatinya. Hal
itulah yang mengusirkaummusyrikindarimasyarakatmuslim.[10]
4.
Surah Yasin ayat 35
(#qè=à2ù'uÏ9`ÏB¾ÍnÌyJrO$tBurçm÷Gn=ÏJtãöNÍgÏ÷r&(xsùr&tbrãà6ô±oÇÌÎÈ
Artinya :
“SupayamerekadapatMakandaribuahnya,
dandariapa yang diusahakanolehtanganmereka. MakaMengapakahmerekatidakbersyukur?”
Tafsir ayat
a. Tafsiran yang pertamaHurufMaa(MaaNaafiyah)
diartikandenganNafi, yaitutidak.
Artinyabahwamerekatelahdatangmenerimahasilsaja. Sebab yang
menumbuhkanhasil-hasilitubukanlahmereka, melainkanlangsungataskehendakTuhan.
Tafsir yang kedua ialah huruf Maa itu diartikan
sebagai (Maa Maushuulah) yaitu isim penghubung. Menjaditafsiranialah: “Supayamerekamakandaribuahhasilnyadanapa
yang diusahakanolehtanganmereka“. DenganmengartikanMaajadimaaushuul,
penghubung, diakuilahjugausahamanusia, karenamemangmanusiaitu pun
diperintahkanolehTuhansupayaberusaha. Kebun-kebundansawah-sawah pun
jadilebihteraturkalaumanusiamaumengusahakannyajugadengantangannya.Sebabitumakahasil
yang diberikan Allah kepadanyaialahsepanjang yang diausahakanjuga.
Di
ujungayatinidengansecarahalusTuhankitamenanyakankepadakitamanusia,
bahwasesudahmenerimanikmatsebanyakitu, baikdarihasilbumi, hasilkebun, yang
dikeluarkandaridalambumi, padahaltadinyabumiituadalahseakan-akanmati,
sekarangtelahhidupdanmemberihidupbagimanusia, apakahmanusiapatuttidakbersyukurkepadaTuhan?[11]
b.
Dan Kami adakandimuka bumi yang telah Kami hidupkan itu kekebun-kebun kurma
dan anggur, dan Kami buat padanya sungai-sungai yang menjalar-jalar di
tempat-tempat dimana kebun-kebun itu tersebar, supaya mereka dapat memakan buah
dari kebun itu atau dari hasil tangan itu atau dari hasil tangan mereka, yaitu
hasil yang telah mereka tanam dan semaikan.
Kemudian,
setelah Allahmenyebut-nyebutnikmat-Nya,
makadisuruhnyamerekauntukbersyukurkepada-Nya, serayaFirmannya:
tbrãà6ô±oxsùr&
“TidakkahmerekabersyukurkepadaPenciptanikmat-nikmatiniatassegalakarunia
yang telahdiaberikankepadamereka yang takbisabisadihitungitu.”
Dan
Allah menyuruh mereka supaya bersyukur,
sedang cara bersyukur kepada Allah Ta’ala ialah beribadah kepada-Nya, namun
mereka meninggalkan ibadah itu, bahkan menyembah kepada selain Allah dan
menyekutukan-Nya.[12]
Adapun daftar surah dan ayat yang mengandung arti syukur
dalam Al-Qur’an pada pencarian Maktabah Syamilah terdapat pada tabel berikut
ini :
|
No
|
Surah
|
Ayat
|
Lafadz yang bermakna syukur
|
Bentuk
|
Arti
|
|
1
|
Al-Baqarah
|
52
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
kamubersyukur
|
|
56
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
kamubersyukur
|
||
|
172
|
وَاشْكُرُوْا
|
فعل الأمر
|
Bersyukurlah
|
||
|
185
|
تَشْكرُونَ
|
فعل المضارع
|
Kamubersyukur
|
||
|
152
|
وَاشْكُرُوْا
|
فعل الأمر
|
Bersyukurlah
|
||
|
243
|
يشْكُرُونَ
|
فعل المضارع
|
Merekabersyukur
|
||
|
2
|
Ali ‘Imran
|
123
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Merekabersyukur
|
|
144
|
الشَّاكِرِيْنَ
|
اسم (جمع)
|
Orang-orang
yang bersyukur
|
||
|
145
|
الشَّاكِرِيْنَ
|
اسم (جمع)
|
Orang-orang
yang bersyukur
|
||
|
3
|
An-Nisa
|
147
|
شَكَرْتُمْ
|
فعل الماض
|
Kamu bersyukur
|
|
شَاكِرًا
|
مصدر
|
Mensyukuri
|
|||
|
4
|
As-Sajadah
|
9
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
5
|
Al-Maidah
|
6
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
89
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
||
|
6
|
An-Naml
|
40
|
شَكَرَ
|
فعل الماض
|
Bersyukur
|
|
أَشْكُرُ
|
فعل الماض
|
Aku bersyukur
|
|||
|
يَشْكُرُ
|
فعل المضارع
|
Bersyukur
|
|||
|
73
|
لاَيَشْكُرُوْنَ
|
فعل النهى
|
Mereka tidak mensyukuri
|
||
|
7
|
Al-Qamr
|
35
|
شَكَرَ
|
فعل الماض
|
Bersyukur
|
|
8
|
Luqman
|
12
|
أُشْكُرْ
|
فعل الأمر
|
Bersyukurlah
|
|
يَشْكُر
|
فعل المضارع
|
Bersyukur
|
|||
|
يَشْكُرُ
|
فعل المضارع
|
Dia bersyukur
|
|||
|
14
|
أُشْكرلي
|
فعل الأمر
|
Bersyukurlah kepada-Ku
|
||
|
31
|
شكور
|
اسم
|
Bersyukur
|
||
|
9
|
Al-A’raf
|
58
|
يَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
10
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
||
|
17
|
شَىاكِرِيْنَ
|
اسم
|
Mereka bersyukur
|
||
|
10
|
Yunus
|
60
|
يَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
11
|
Yusuf
|
38
|
يَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
12
|
Ibrahim
|
37
|
يَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
7
|
شَكَرْتُمْ
|
فعل الماض
|
Kamu bersyukur
|
||
|
13
|
Ghafir
|
61
|
يَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
14
|
Al-Anfal
|
26
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
15
|
An-Nahl
|
14
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
78
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
||
|
16
|
Al-Hajj
|
36
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
17
|
Al-Mu’minun
|
78
|
تَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
18
|
Saba
|
13
|
الشكور
|
اسم
|
Yang bersyukur
|
|
19
|
Yasin
|
35
|
يَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
|
73
|
يَشْكُرُوْنَ
|
فعل المضارع
|
Kamu bersyukur
|
Jadi, dapat disimpulkan dari tebel di atas, bahwa ayat
yang mengandung arti syukur dalam Al-Qur’an
berjumlah 40 ayat.
C.
Syukur dalam Sudut Pandang Akhlak
Syukurbermaknapengakuandanterimakasih.
Al-Qur’an menggunakandua kata: syakur dan syakir, yangkeduanyadigunakanuntukmenyatakanpengakuandanterimakasih,
baikkepadaTuhanmaupunkepadamanusia. Olehkarenanyaiamerupakanbagiandarisikapberakidah.
Syukur yang dilakukan manusia berporos pada tiga pilar, yaitu
mengakui nikmat tersebut secara batin, menceritakannya secara lahir dan
menggunakannya untuk taat kepada Allah.Jadi, syukur berhubungan erat dengan
hati, lisan dan anggota badan. Hati
untuk mengetahui dan mencintai, lisan untuk menyanjung dan juga memuji
sedangkan anggota badan untuk menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah yang
disyukuri dan mencegah penggunaannya dalam kedurhakaan kepadaNya.[13]
Syukur(al-Syukr)adalahsalahsatunilaiajaran
yang sangatpentingdalamajaran Islam
yangsenantiasarelevandengankehidupanmanusia, mengingatdemikianbanyaknyaanugerah
Allah yang diberikankepadamereka, baikdalambentukmaterimaupun non materi.
Mensyukurirahmat Allah
dilaksanakandalambentukucapan yang setulushati, kemudiandiiringidenganperbuatan,
yaitumenggunakanrahmattersebutdengancaradanuntuktujuan yang diridhai-Nya.
1.
Manfaat
Bersyukur
Sayyid Qutb yang dikutip oleh Ahmad
Yani, menyatakan empat manfaat bersyukur, yakni:[14]
a.
Menyucikan Jiwa
Bersyukur dapat menjaga kesucian jiwa, sebab menjadikan
orang dekat dan terhindar dari sifat buruk.
b.
Mendorong jiwa untuk beramal
shaleh
Bersyukur yang harus ditunjukkan dengan amal shaleh
membuat seseorang selalu terdorong untuk memanfaatkan apa yang diperolehnya untuk
berbagi kebaikan. Semakin banyak kenikmatan yang diperoleh maka semakin banyak
pula amal shaleh yang dilakukan.
c.
Menjadikan orang lain ridha
Dengan bersyukur apa yang diperolehnya akan berguna bagi
orang lain dan membuat orang lain ridha kepadanya. Karena menyadari bahwa
nikmat yang diperoleh tidak hanya dinikmati sendiri melainkan juga dinikmati
oleh orang lain sehingga hubungan dengan orang lain menjadi baik.
d.
Memperbaiki dan memperlancar
interaksi sosial
Dalam kehidupan bermasyarakat, hubungan yang baik dan
lancar merupakan hal yang sangat penting. Orang yang bersyukur dapat melakukan
upaya memperbaiki dan memperlancar hubungan sosial karena tidak ingin menikmati
sendiri apa yang diperolehnya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari dapat kita lihat bahwa orang-orang
yang dermawan dan suka menginfakkan hartanya untuk kepentingan
umum dan menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, pada umumnya tidak pernah jatuh miskin ataupun sengsara, bahkan sebaliknya
rezekinya senantiasa bertambah dan kekayaannya makin meningkat, serta hidupnya bahagia, dicintai dan dihormati dalam pergaulan.
umum dan menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, pada umumnya tidak pernah jatuh miskin ataupun sengsara, bahkan sebaliknya
rezekinya senantiasa bertambah dan kekayaannya makin meningkat, serta hidupnya bahagia, dicintai dan dihormati dalam pergaulan.
Sebaliknya orang-orang kaya yang kikir atau suka
menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah, maka
kekayaannya
tidak cepat bertambah, bahkan cepat menyusut. Dalam pada itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuki orang banyak sehingga kehidupan akhiratnya
jauh dari ketenangan dan kebahagiaan.[15]
tidak cepat bertambah, bahkan cepat menyusut. Dalam pada itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuki orang banyak sehingga kehidupan akhiratnya
jauh dari ketenangan dan kebahagiaan.[15]
[1]Ahmad Warson
Munawwir, Kamus Munawwir Arab-Indonesia.(Surabaya: Pustaka
Progresif. 1997), Cet. XIV, Hal 734.
[3]Dr. Ahmad
Farid, Manajemen Qalbu Ulama Salaf, Terj. Najib Junaidi, Lc., (Surabaya:
Pustaka Elba, 2016), Cet. Ke-2, Hal. 299.
[4]Syaikh
Muhammad Ali-Ashabuni. Safwatut Tafasir. Terj. KH. Yasin. (Jakarta
: Pustaka Kautsar. 2011). Jilid 1. Hal. 202-203.
[5]Imam
al-Hafidz Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Terj. H. Salim
Bahreisy, H. Said Bahreisy, (Kuala Lumpur: Victory Agencie, 2003), Jilid 1,
Hal. 268-269.
[6]Syaikh
Muhammad Ali-Ashabuni. Safwatut Tafasir...... Hal. 223
[7]Ahmad
Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Terj. Bahrun Abu Bakar,
Lc.,DrsHeryNoerAly.
( Semarang: PT.
KaryaToha, 1993) Cet, ke-2,Juz I, Hal. 80
[8]Imam
jalaluddin Al-Mahalli, Imam Jaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain. Terj.
Bahrun Abubakar, Lc (Bandung : Sinar Baru Alensindo,2011), Cet. VIII,Jilid 1,
Hal. 264-265.
[9]Syaikh
Muhammad Ali-Ashabuni. Safwatut Tafasir...... Hal. 522-523.
[11]Prof. Dr.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Tafsir Al-Azhar,
(Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 1982), Juz XXIII, Hal. 34-35.
[13]Dr. Ahmad
Farid, Manajemen Qalbu Ulama Salaf, Terj. Najib Junaidi, Lc.,
(Surabaya: Pustaka Elba), Cet. Ke-2, Hal. 299.
[14]Ahmad Yani, Menjadi
Pribadi Terpuji, (Jakarta: Al-Qalam, 2007), Hal. 251.
[15]Prof. Dr. H.
Syahrin Harahap, H. Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedi Aqidah Islam,
(Jakarta: Kencana, 2003), Hal. 413
Tidak ada komentar:
Posting Komentar